Cerita Bersambung (Tamat)



MENGAPA GENAP MENGINGINKAN GANJIL

            Langit pantai Mutiara kali ini cerah. Anan yang tengah berdiri melihat sunset itu tersenyum.
            “Ayo lebih dekat lagi, itu indah sekali loh!” seru wanita itu. Ia pun mendekati wanita itu dan duduk disebelahnya. Mereka pun duduk berdua diatas pasir pantai yang lembut.Wanita itu adalah Nessa, Kekasih Anan. Sudah dua tahun mereka menjalin kasih di batasi oleh jarak. Anan tau, Nessa sangat menyukai senja. Nessa menoleh ke Anan, dan Anan memberinya sebuah senyuman. Nessa membalas dengan senyuman pula.
            Pukul 5 sore lebih beberapa menit, pemandangan matahari yang perlahan merayap turun dari langit menempelkan dirinya pada sekumpulan awan yang membuat separuh cahayanya terhalang, tetapi masih indah. Warnanya kuning-kemerahan. Sebenarnya Anan masih ingin berlama-lama bersama Nessa. Liburnya yang hanya 2 minggu tak cukup mengalahkan rasa rindunya. Mungkin jarak tak pernah bisa pisah dari hubungan mereka, selalu menjadi pembatas. Besok Anan harus pulang lagi. Karena masa cutinya akan segera berakhir.
            “Aku ingin kita seperti ini terus”. Kata Nessa sambil bersandar di bahu Anan.
            “Iya, Mudah-mudahan, jaga dirinya ya”.
            “Jaga hatinya juga, kamu ngerti kan maksud ku?”
            “Pasti”.
            Sebenarnya Nessa tak pernah nyaman ditinggalkan Anan kali ini. Menjalani LDR (long distance relationship) selama pacaran dengan jarak yang begitu jauh pula. Dan sekarang, ia harus berpisah lagi. Ada rasa takut kehilangan didalam diri Nessa. Dan ketika ia teringat Anan pergi, ia teringat __ ah bahkan menyebutnya pun Nessa sudah tidak mampu.
            Hari sudah mulai gelap. Senja yang tadi indah menghilang dipelupuk barat. Mereka pun pulang.
***
Nessa mengambil ponsel di sakunya, dan memencet beberapa tombol.
“Kamu udah dimana? Aku udah sampai di pelabuhan nih”. Kata suara diseberang.
“Iya Anan, bentar lagi aku sampai. Aku sama Reva”.
“Oke hati-hati ya, aku tunggu”. Klik
Kali ini Nessa ingin memberikan surprise buat Anan. Puding spesial buatan Nessa sendiri tadi malam. Untuk pagi ini jalanan tidak terlalu ramai. Dengan lugas Nessa dan Reva akhirnya sampai di Pelabuhan tempat Anan akan berangkat.
Nessa tersenyum saat pandangannya bertemu dengan Anan. Anan yang juga melihat Nessa seketika beranjak dari tempat ia berdiri. Ia menghampiri Nessa.
“Ini buat kamu, dimakan ya. Aku buat tadi malam”
“Kenapa tak bilang? Jadi repot-repot gini. Makasih ya”
“Aku mau kasih surprise dong”. Kata Nessa sambil memberikan bungkusannya kepada Anan. Nessa tau Anan tadi tidak sempat sarapan karena buru-buru harus ke pelabuhan.
“Ciee yang romantis gini, jangan di sia-siain tuh Nan Nessa nya. Wanita kayak gini susah deh dapetinnya”.
“Ah apaan sih Va.” Nessa tertawa mendengar perkataan Reva. Sahabatnya sejak SMP itu selalu saja membanggakan dirinya di depan Anan. Akhirnya kapal yang ditunggu Anan datang juga, setelah berpamitan dengan orang tuanya, kini Anan bersama Nessa untuk terakhir kalinya.
“Jangan nangis ya, jangan sakit-sakit juga. Aku tak mau kamu kenapa-kenapa”.
“Tak lah, Aku tak akan nangis kecuali kamu yang membuatnya”. Ujar Nessa.
“Baiklah nona, aku tak akan membuatmu menangis”. Ia mengusap-usap kepala Nessa. Lebih tepatnya mengacak-nagacak rambutnya. Nessa selalu suka saat Anan mengacak-ngacak rambutnya seperti ini. Anan pun masuk ke dalam kapal.
“Terkadang aku gak tega ngeliat kamu ditinggalin Anan terus Sa”
“Iya Rev, Perasaan aku juga tak enak sebenarnya. Tapi aku coba kuat”.
“Kok aku yang  naangis ya. Ini sedih banget”. Reva meneteskan ai mata tapi tertawa juga.
Nessa diam, ia tak tau harus menjawab apa ke sahabatnya. Pagi ini ia lebih banyak diam. Ia tak mau membohongi diriya jika tertawa-tertawa saja. Karena besok ntah lusa ia akan menangis merindukan Anan.
Setelah keberangkatan Anan hari itu. Mereka masih tetap berkomunikasi biasa. Walaupun Nessa tau, kadang-kadang karena sibuknya tugas dikampus, ia sampai tak menghubungi Nessa seharian. Nessa tau waktu Anan tak selamanya untuk Nessa. Awalnya Nessa coba pengertian. Ia tak akan mungin memaksa Anan harus menghubunginya. Walau sebenarnya Nessa sangat merindukannya. Namun pertengkaran kecil selalu terjadi. Nessa selalu bilang bahwa ia tak bisa tahan tanpa komunikasi. Ia hanya cukup takut untuk terulang kedua kalinya kejadian yang sama.
Nessa masih ingat saat pertama kali ia menjalani hubungan dengan Anan. Awalnya terasa indah. Tapi ternyata Anan melukai hati Nessa. Dibalik diamnya, dibalik ia tidak menghubungi Nessa. Ternyata ia berhubungan dengan mantan kekasihnya. Puing-puing kenangan luka itu masih terasa dalam benak Nessa. Entah mengapa Tuhan menciptakan otak manusia begitu mudah melupakan hal yang indah. Tetapi begitu sulit untuk sedikit saja melupakan musibah.
Akhirnya ia mengusir orang itu keluar dari hatinya untuk sebuah alasan. Sejak kejadian itu, Nessa tidak bisa lagi melihat cinta dari seorang laki-laki tanpa melukai. Ia refleks menolak dan menutup diri seperti kuncup bunga putri malu. Mencegah apapun untuk masuk.
Namun kali ini Anan datang lagi, awalnya Nessa tak mau lagi  berhubungan dengan Anan, namun Anan terus memaksa untuk menghubunginya. Ia meminta agar Nessa memberikan kesempatan untuk kedua kalinya agar tetap bersamanya setelah mereka putus kontak lebih kurang 2 bulan. Ia juga berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi seperti yang ia lakukan dulu. Nessa luluh, rasa sayangnya mengalahkan rasa sakit hatinya walau sebenarnya Nessa masih takut untuk memulai.
Jam 12 malam lewat beberapa detik, Nessa dikejutkan dengan telepon Anan.
“Selamat ulang tahun sayang, semoga makin dewasa, makin pintar dan semakin sabar menghadapi aku ya”.
Nessa senang dengan ucapan Anan, ternyata ia tak lupa dengan hari ulang tahunnya. Nessa pun membalas dengan ucapan terima kasihnya. Berharap pagi esok yang akan dijalaninya lebih indah dari hari sebelumnya. Reva sahabatnya juga tak lupa memberinya surprise.
***

Sudah dua minggu terakhir Anan tidak menghubungi Nessa. Entah karena alasan apa. Sejak selepas hari ulang tahun Nessa kemarin. Tak seperti biasanya Anan seperti itu. Nessa coba meneleponnya. Tapi berkali-kali tak diangkat. Malah terkadang dimatikan. Ia pun mengirim pesan, tapi tak kunjung di respon. Nessa kesal. Tak seperti biasanya dia seperti itu terhadap Nessa, sesibuk apapun Anan, ia masih bisa mengatur waktu untuk sekedar memberi kabar ke Nessa. Memang kemarin Anan pernah bilang bahwa dia sedang ikut pelatihan. Tapi ini sudah terlalu lama. Tiba-tiba sms Ana masuk.
“lagi apa sayang?”
Nessa yang sudah lama kesal itu meluapkan amarahnya ke Anan.
“Masih ingat juga buat menghubungi aku, aku kira kamu sudah lupa, bisa ya kamu kayak gini, kemana aja hah?! Aku udah telepon tapi tak pernah di angkat. Aku capek. Siapa yang tahan kalo enggak dikasih kabar kayak gini?” Suara Nessa bergetar. Dia tak pernah semarah ini dengan Anan.
“Aku sibuk, kamu tahu kan? Udah lah tak usah diperpanjang lagi. Aku bosan dengar kamu marah-marah, sudah ya nanti saja sms lagi”.
Nessa sangat marah dengan perkataan Anan tadi. Ia menagis. 1 bulan terakhir ini, setelah Anan menjalani kuliahnya. Masalah-masalah kecil mulai muncul. Dari komunikasi yang tidak terjalin lancar. Hingga intensitas bertemu yang semakin sedikit. Jarak yang memisahkan Anan dan Nessa membuatnya sulit untuk menyelesaikan masalah sesepele apapun. Nessa menginginkan diskusi dan pembahasan yang terperinci. Hingga semuanya selesai pada sebuah kesimpulan yang membuatnya merasa baik. Namun Anan malas membahas masalah-masalah itu. Ia cenderung membuang muka dan membiarkan waktu yang menyelesaikann masalah-masalah itu. Ia terlalu lelah dengan tugas-tugasnya dan tidak punya waktu untuk meladeni Nessa. Lama-kelamaan, Anan menganggap Nessa seperti anak kecil yang yang rewel menuntut penjelasan untuk setiap masalah yang mereka hadapi. Sementara Nessa melihat Anan seperti tidak perduli dengan hubungan mereka sendiri.
Hingga akhirnya Nessa memilih untuk mengikuti saja cara Anan dan tidak lagi sering membahas masalah yang terjadi diantara mereka. Namun, ternyata itu bukanlah pilihan yang tepat karena masalah yang ada tidak lantas menghilang, tetapi tetap disana, menjadi bara api dalam sekam. Yang diam-diam membakar habis hubungan mereka dan siap kapan pun berkobar saat ada cukup angin yang menghembusnya. Nessa merasa hubungan dengan Anan seperti sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
***
Anan duduk dikursiperpustakaan. Menatap layar laptopnya. Ia sedang mengedit proposalnya. Teh panas di meja Anan mulai dingin. Ia baru meminumnya sedikit. Pikirannya menerawang tentang keadaan Nessa disana. Perempuan itu nampak begitu marah karena ia tak memberinya kabar. sejak awal, Anan tau pilihan menjalani hubungan dengan Nessa akan menjadi pilihan yang sangat berat. Hubungan jarak jauh adalah pilihan satu-satunya yang mereka ambil, yang belakangan ini menjadi alasan masalah kecil yang timbul diantara mereka. Ia merasa bahwa ia terlalu jahat dengan Nessa. Maka ia memilih untuk menjauh dari pilihan itu. Karena ia juga sekarang sedang menjalani hubungan dengan wanita lain, dikota yang sama. Anan belum mau terbuka dengan Nessa. Ia tahu bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.
Anan mengirim pesan kepada Nessa setelah mereka bertengkar lagi tadi.
“Aku minta maaf ya, kalo kamu udah tak kuat lagi mending jangan diteruskan. Dari pertama kita bertengkar, aku sudah merasa bersalah. Kalo memang kita dipersatukan. Waktu itu pasti ada. Mungkin harus sabar menanti__”. Anan menarik napas panjang dan memikirkan kata yang pas dia ucapkan lagi agar Nessa tidak sedih membacanya.
“tapi jangan sedih ya, aku tak mau kamu menangis”.
Nessa tidak menjawab. Ia mencoba untuk menguasai dirinya. Tapi lagi-lagi ia menangis. Terkadang tak ada pilihan lain untuk menghindari dari rindu yang menyakitkan selain menjauh dan perlahan melupakan.
“Untuk apa mengekang sesuatu jika sesuatu itu ingin bebas, coba saja untuk melupakannya. Pepatah pernah mengatakan, berhentilah membuang cinta dan sayangmu kepada orang yang salah. Mulailah saja untuk membuka lembar baru”. Ungkap Reva sembari mengunyah roti Backry.
Nessa memaksa Reva untuk menemuinya. Ia butuh Reva untuk menceritakan semua yang sedang ia alami. “sulit Va, aku masih benr-benar mencintainya”, ia berbaring memeluk guling, wajahnya menekuk.”Aku cuma tak tahan tak berkomunikasi dengan dia, tapi kenyataanya dia tak mengerti aku”.
“Nah!” Reva berseru. Pipinya menggembung menampung kunyahan roti yang ia makan. “Bukan kah itu sudah cukup? Berati jelaskan, dia yang sebenarnya ingin meninggalkanmu, belajarlah dari pengalaman Nes, mungkin dia telah menjadi milik orang lain disana, forget him”.
2 bulan kemudian, masih pada posisi yang sama, masih dengan perasaan yang sama. Nessa masih belum bisa melupakan Anan. Ia menangis setiap hari. Sampai ia jatuh sakit. Rindu ini menyakitkan. Kadang dia datang disaat yang tidak tepat. Nessa mengambil ponsel disamping bantalnya. Ia merasa kangen dengan Anan. Ia mencoba untuk menelepon Anan. Tapi tak diangkat-angkat. Baru lah untuk kesekian kalinya Anan mengangkat teleponnya.
“Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku?” tanya Nessa.
“Aku angkat”.
“Tapi setelah berkali-kali aku meneleponmu”
“Yang penting aku angkat kan?!”
Nessa menarik napas.
“Ada apa? Aku lagi dikampus sekarang. Bentar lagi dosenku masuk. Sudah ya”. Klik
Nessa sangat kaget dengan sikap Anan. Ia berharap sekali Anan mengerti, tapi rasanya tidak. Berbeda dengan Anan, dia berbohong kepada  Nessa. Sebenarnya ia sedang duduk bersama dengan seorang perempuan. Perempuan yang sekarang menjadi pengganti Nessa. Namanya Tika. Perempuan itu menoleh Anan, memberi isyarat dengan menaikkan alisnya seolah-olah bertanya siapa. Anan menjawab dengan gelengan kepala dan tersenyum. Perempuan itu mencoba bertanya, tapi Anan berusaha mengalihka pembicaraan. Tika tidak tau apa yang sebenarnya Anan sembunyikan. Tapi ia ingin mencari tau, karena ia tahu Anan menyembunyikan sesuatu darinya.
***
Pagi-pagi tak biasanya I-phone Nessa berdering. Dari nomor yang tidak ia kenal.
“Hallo, maaf ini siapa?” Tanya Nessa penasaran.
“Ini Nessa ya? Anak SMA itu kan, mantannya Anan”
Mantan? Apa yang... apa yang sedang terjadi? Aku tak mengerti.
“Maaf ini dengan siapa ya?”
“Aku kekasih Anan, kamu kan yang kemarin telepon-telepon dia? Dengar ya. Aku tak suka__” klik
Belum habis lagi wanita itu berbicara. Nessa langsung mematikan teleponnya. Nessa shock dan tak habis pikir. Pagi  minggunya dirusak oleh seseorang yang mengaku kekasih  Anan. Anan tak pernah bilang tentang ini. Padahal status mereka masih belum putus. Berbagai pertanyaan muncul dari benak Nessa. Nessa pun menelepon Anan dan ingin meminta penjelasan.
“Hallo, iya Nes ada apa?”
Dengan nada setengah menangis Nessa bertanya.”Siapa dia? Kenapa kamu tak pernah cerita hah? Kenapa kamu bohong”.
Sepertinya Nessa sudah mengetahui nya. Tapi dari mana? Batin Anan bertanya.”Maafkan aku Nes udah bohong. Aku memang dengan dia. Tapi aku tak bisa kayaknya. Aku janji akan menyelesaikan semuanya”.
“Kau mempermainkan aku Nan, kau jahat”.
“Ia, Aku memang jahat, aku memang bodoh. Tapi dari kebodohan itu, aku bisa tau mana yang terbaik buat aku. Mungkin aku cuma bisa nyaman sama kamu aja Sa. Biarkan lah aku tebus semua semua kesalahan aku ini. Aku akan selesaikan semuanya”.
“ Itu terserah kamu dan resiko kamu. Aku tak mau peduli dan mau tau lagi. Aku benar-benar kecewa sama kamu Nan. Aku ingin berhenti dari semua ini”.
Anan tersenyum. “Tentu kita akan berhenti seperti ini, kita tak tidak akan seperti ini lagi. Aku sudah bilang aku akan membereskan ini semua kan? Dan kita akan bahagia”.
“Kamu tidak mengerti. Aku ingin putus”.
“Coba jelaskan kepadaku apa yang terjadi”.
“Maaf, aku tak bisa seperti ini”, Nessa berusaha keras menahan air matanya tidak keluar. “Kamu tidak perlu menyelesaikannya, karena saat ini semua sudah selesai”.
Anan menarik napas, berusaha menimbang-nimbang kalimat yang hendak ia ucapkan. “Aku pikir kita akan sama-sama berjuang Sa”.
“Maaf sudah terlambat”.
Kau tau perasaan itu, saat semua yang telah kau perjuangkan jadi terasa sia-sia saja? Dua bulan adalah waktu yang lebih dari cukup bagi Nessa untuk bertahan dengan luka. Mungkin salah satu hal yang membuat Nessa bertahan hingga sejauh ini adalah perasaan yang diutamakan.
Nessa tak habis pikir dengan sikap Anan. Tak pernah konsisten dengan apa yang ia miliki. Ia mungkin menganggap ini masalah sepele. Tapi kenyataannya ini masalah besar. Ini menyangkut 3 hati. 3 perasaan. Ia tak pernah berharap ada orang ketiga yang akan mengganggu hubungan mereka. Ia tak tau harus mengungkapkan apa. Ia bingung. Terkadang saat seseorang terlalu larut dalam kesedihan. Ia sampai tak tau harus menangis atau tertawa.
Mencintai seseorang itu tak salah kok. Cuma kalau cara kamu salah  bakal membuat pihak lain merasa tersakiti. Sebaiknya kamu selesaikan masalah kamu dengan pasanganmu. Baru kamu pacaran dengan wanita lain.
I-phone Nessa berbunyi. Telepon dari Anan. Ia membiarkan nada deringnya berbunyi cukup lama sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mengangkatnya.
“Aku sudah putus dengan dia”.
Nessa terhenyak. “Apa?”
“kamu mendengarku Sa?” Anan mengulangi perkataannya. “Aku tak bersama dia lagi sekarang”.
“Bagaimana mungkin?”
“Kamu mau denganku kan Sa? Kita mulai semua dari awal.
“Tapi aku__” Nessa menarik napas dalam “__maaf Anan aku tidak bisa”. Sebelum sempat Anan bicara lagi, Nessa memutuskan telepon.
Nessa merasa dadanya sesak. Untuk kesekian kalinya. Bola matanya kembali basah. Ia sudah memutuskan untuk tidak lagi memupuk harapannya kepada Anan. Ia tidak lagi berharap bahwa ia akan memiliki akhir yang indah dengan lelaki itu yang sekaligus menghancurkannya. Dan pada saat ia sudah tersadar dari mimpi-mimpinya dan kembali kekenyataan. Lelaki itu kembali menghubunginya kembali. Berkata bahwa ia sudah mengakhiri hubungannya dengan wanita pengacau itu.
“Entah mengapa, aku tidak begitu senang mendengar kabar ini Nes”. Suara Reva terdengar cemas di ujung telepon.
“Aku tidak tahu harus bagaimana”. Kata Nessa dengan suara datar.
“Jangan biarkan ia mempermainkanmu Nes”.
“Dia sepertinya tidak mempermainkanku Va”.
“Kamu pasti tidak lupa kan Nes, dulu Anan juga pernah melakukan kesalahan itu. Dan sekarang ia melakukannya lagi. Apa yang membuatmu berpikir dia tidak akan melakukan hal yang serupa kepadamu kemudian hari”. Reva menekan suaranya. “Aku tau kamu perempuan yang cerdas. Tapi kamu tampak bodoh saat bersama laki-laki. Cinta membuatmu menjadi orang yang bodoh”.
Nessa tidak menyanggah perkataan Reva. Mencintai Anan mendadak membuat ia menjadi orang yang paling bodoh didunia. Apa artinya mencintai orang lain yang katanya mencintaimu, tetapi juga mencintai orang yang lain lagi.
“Lalu, kamu akan menerimanya?” Tanya Reva.
“Tidak”.
“Tapi kamu masih memikirkannya? Kamu masih mempertimbangkannya?
“Aku tak tau Va”.
“C’mon. Kau pantas mendapatkan laki-laki single, tampan, cerdas, baik, tidak mempermainkanmu dan setia”
“Iya Va, aku akan menyelesaikannya”.
                                                                     ***                                                                            
“Apa yang ingin kamu katakan?”
Lelaki itu tidak berhenti menghubunginya dan terus menghubunginya. Sudah satu minggu Anan terus-terusan “mengejarnya” dan selama satu minggu itu pula Nessa berusaha mengelak. Hingga pada akhirnya Nessa memutuskan untuk mengangkat telepon Anan dan membicarakan masalah yang terjadi diantara mereka.
“Aku ingin kita memulai lagi semuanya dari awal”.
“Diantara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Tidak ada yang perlu dimulai, semuanya sudah berakhir kan?” Nessa berusaha keras mengendalikan debar didadanya. “Kamu seharusnya tetap bersama Tika, bukan denganku”.
“Tapi aku baru sadar Sa, tolong”
“Kita__” Nessa menahan sesak di dadanya yang tiba-tiba mengacaukan suaranya. “Aku dan kamu tidak bisa lagi memulainya seperti ini”.
“Lalu bagaimana kita harus memulainya lagi? Katakan? Dan akan kulakukan”.
Nessa menghela napas panjang. Ia berpikir, ia tidak bisa memulainya dengan cara seperti ini. Terlalu berat baginya untuk menjalin hubungan kembali dengan keadaan seperti ini. Ia berpikir, mungkin apa yang Anan rasakan selama ini hanyalah sebuah rasa yang tiba-tiba dan sementara saja. Anan tidak bisa menemukan apa yang ia inginkan dari Nessa makanya ia berpaling dengan Tika. Dan ternyata ia tidak merasa nyaman dengan Tika dan ingin kembali ke sisi Nessa lagi. Nessa menduga apa yang Anan rasakan hanyalah sementara.
“Tinggalkan aku”.
“Hah?”
“Tinggalkan aku, pergi sejauh mungkin dariku”.
“Apa maksudmu Sa? Aku tak bisa meninggalkanmu. Aku tak mau”.
“Jika jarak dan waktu sudah memisahkan kita begitu jauh, tapi perasaanmu masih ada dan masih sama untukku, kamu boleh kembali dan kita akan bicara lagi tentang semua ini”.
Anan tampak berpikir, berat baginya untuk memenuhi permintaan Nessa. Namun ini semua demi memperjuangkan apa yang telah ia yakini. Ia cukup menyesal dan menyadari bahwa apa yang ia lakukan dulu sangat salah. Tapi sekarang ia ingin menunjukkan bahwa hanyalah Nessa yang sekarang dihatinya. Bukan yang lain. Ia tak mau kehilangan kebahagiaannya lagi.
“Baiklah kalau itu maumu. Aku akan pergi sejauh yang aku bisa”.
Nessa hanya diam beberapa saat, dan kemudian mematikan teleponnya.
Anan menunduk. Ia merasa sangat lemah. Mungkin segala yang berakhir tidak harus selalu diikuti oleh sebuah awal yang baru. Mungkin kesempatan itu memang tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya.
Betapapun Nessa menyadari bahwa ia masih memiliki rasa yang sangat besar kepada Anan. Ia tidak bisa memulainya lagi begitu saja. Ia juga tidak tahu apa yang ia butuhkan untuk mengembalikan kepercayaannya akan seseorang yang sanggup menjaga hati dan harapannya. Nessa sedang mencoba memahami 1 hal yang hingga saat ini masih sulit ia mengerti. Bahwa dalam setiap pertemuan. Selalu ada perpisahan yang tidak bisa ia hindari.

                                              _Tamat

Komentar

Postingan Populer