Cerita Bersambung (Tamat)
MENGAPA GENAP MENGINGINKAN GANJIL
Langit
pantai Mutiara kali ini cerah. Anan yang tengah berdiri melihat sunset itu
tersenyum.
“Ayo
lebih dekat lagi, itu indah sekali loh!” seru wanita itu. Ia pun mendekati
wanita itu dan duduk disebelahnya. Mereka pun duduk berdua diatas pasir pantai
yang lembut.Wanita itu adalah Nessa, Kekasih Anan. Sudah dua tahun mereka
menjalin kasih di batasi oleh jarak. Anan tau, Nessa sangat menyukai senja.
Nessa menoleh ke Anan, dan Anan memberinya sebuah senyuman. Nessa membalas
dengan senyuman pula.
Pukul
5 sore lebih beberapa menit, pemandangan matahari yang perlahan merayap turun
dari langit menempelkan dirinya pada sekumpulan awan yang membuat separuh
cahayanya terhalang, tetapi masih indah. Warnanya kuning-kemerahan. Sebenarnya
Anan masih ingin berlama-lama bersama Nessa. Liburnya yang hanya 2 minggu tak
cukup mengalahkan rasa rindunya. Mungkin jarak tak pernah bisa pisah dari
hubungan mereka, selalu menjadi pembatas. Besok Anan harus pulang lagi. Karena
masa cutinya akan segera berakhir.
“Aku
ingin kita seperti ini terus”. Kata Nessa sambil bersandar di bahu Anan.
“Iya,
Mudah-mudahan, jaga dirinya ya”.
“Jaga
hatinya juga, kamu ngerti kan maksud ku?”
“Pasti”.
Sebenarnya
Nessa tak pernah nyaman ditinggalkan Anan kali ini. Menjalani LDR (long
distance relationship) selama pacaran dengan jarak yang begitu jauh
pula. Dan sekarang, ia harus berpisah lagi. Ada rasa takut kehilangan didalam
diri Nessa. Dan ketika ia teringat Anan pergi, ia teringat __ ah bahkan
menyebutnya pun Nessa sudah tidak mampu.
Hari
sudah mulai gelap. Senja yang tadi indah menghilang dipelupuk barat. Mereka pun
pulang.
***
Nessa mengambil ponsel di sakunya,
dan memencet beberapa tombol.
“Kamu udah dimana? Aku udah sampai
di pelabuhan nih”. Kata suara diseberang.
“Iya Anan, bentar lagi aku sampai.
Aku sama Reva”.
“Oke hati-hati ya, aku tunggu”.
Klik
Kali ini Nessa ingin memberikan
surprise buat Anan. Puding spesial buatan Nessa sendiri tadi malam. Untuk pagi
ini jalanan tidak terlalu ramai. Dengan lugas Nessa dan Reva akhirnya sampai di
Pelabuhan tempat Anan akan berangkat.
Nessa tersenyum saat pandangannya
bertemu dengan Anan. Anan yang juga melihat Nessa seketika beranjak dari tempat
ia berdiri. Ia menghampiri Nessa.
“Ini buat kamu, dimakan ya. Aku
buat tadi malam”
“Kenapa tak bilang? Jadi
repot-repot gini. Makasih ya”
“Aku mau kasih surprise dong”. Kata
Nessa sambil memberikan bungkusannya kepada Anan. Nessa tau Anan tadi tidak
sempat sarapan karena buru-buru harus ke pelabuhan.
“Ciee yang romantis gini, jangan di
sia-siain tuh Nan Nessa nya. Wanita kayak gini susah deh dapetinnya”.
“Ah apaan sih Va.” Nessa tertawa
mendengar perkataan Reva. Sahabatnya sejak SMP itu selalu saja membanggakan
dirinya di depan Anan. Akhirnya kapal yang ditunggu Anan datang juga, setelah
berpamitan dengan orang tuanya, kini Anan bersama Nessa untuk terakhir kalinya.
“Jangan nangis ya, jangan
sakit-sakit juga. Aku tak mau kamu kenapa-kenapa”.
“Tak lah, Aku tak akan nangis
kecuali kamu yang membuatnya”. Ujar Nessa.
“Baiklah nona, aku tak akan
membuatmu menangis”. Ia mengusap-usap kepala Nessa. Lebih tepatnya mengacak-nagacak
rambutnya. Nessa selalu suka saat Anan mengacak-ngacak rambutnya seperti ini.
Anan pun masuk ke dalam kapal.
“Terkadang aku gak tega ngeliat
kamu ditinggalin Anan terus Sa”
“Iya Rev, Perasaan aku juga tak
enak sebenarnya. Tapi aku coba kuat”.
“Kok aku yang naangis
ya. Ini sedih banget”. Reva meneteskan ai mata tapi tertawa juga.
Nessa diam, ia tak tau harus
menjawab apa ke sahabatnya. Pagi ini ia lebih banyak diam. Ia tak mau
membohongi diriya jika tertawa-tertawa saja. Karena besok ntah lusa ia akan
menangis merindukan Anan.
Setelah keberangkatan Anan hari
itu. Mereka masih tetap berkomunikasi biasa. Walaupun Nessa tau, kadang-kadang
karena sibuknya tugas dikampus, ia sampai tak menghubungi Nessa seharian. Nessa
tau waktu Anan tak selamanya untuk Nessa. Awalnya Nessa coba pengertian. Ia tak
akan mungin memaksa Anan harus menghubunginya. Walau sebenarnya Nessa sangat
merindukannya. Namun pertengkaran kecil selalu terjadi. Nessa selalu bilang
bahwa ia tak bisa tahan tanpa komunikasi. Ia hanya cukup takut untuk terulang
kedua kalinya kejadian yang sama.
Nessa masih ingat saat pertama kali
ia menjalani hubungan dengan Anan. Awalnya terasa indah. Tapi ternyata Anan
melukai hati Nessa. Dibalik diamnya, dibalik ia tidak menghubungi Nessa.
Ternyata ia berhubungan dengan mantan kekasihnya. Puing-puing kenangan luka itu
masih terasa dalam benak Nessa. Entah mengapa Tuhan menciptakan otak manusia
begitu mudah melupakan hal yang indah. Tetapi begitu sulit untuk sedikit saja
melupakan musibah.
Akhirnya ia mengusir orang itu
keluar dari hatinya untuk sebuah alasan. Sejak kejadian itu, Nessa tidak bisa
lagi melihat cinta dari seorang laki-laki tanpa melukai. Ia refleks menolak dan
menutup diri seperti kuncup bunga putri malu. Mencegah apapun untuk masuk.
Namun kali ini Anan datang lagi,
awalnya Nessa tak mau lagi berhubungan dengan Anan, namun Anan terus
memaksa untuk menghubunginya. Ia meminta agar Nessa memberikan kesempatan untuk
kedua kalinya agar tetap bersamanya setelah mereka putus kontak lebih kurang 2
bulan. Ia juga berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi seperti
yang ia lakukan dulu. Nessa luluh, rasa sayangnya mengalahkan rasa sakit
hatinya walau sebenarnya Nessa masih takut untuk memulai.
Jam 12 malam lewat beberapa detik,
Nessa dikejutkan dengan telepon Anan.
“Selamat ulang tahun sayang, semoga
makin dewasa, makin pintar dan semakin sabar menghadapi aku ya”.
Nessa senang dengan ucapan Anan,
ternyata ia tak lupa dengan hari ulang tahunnya. Nessa pun membalas dengan
ucapan terima kasihnya. Berharap pagi esok yang akan dijalaninya lebih indah
dari hari sebelumnya. Reva sahabatnya juga tak lupa memberinya surprise.
***
Sudah dua minggu terakhir Anan
tidak menghubungi Nessa. Entah karena alasan apa. Sejak selepas hari ulang
tahun Nessa kemarin. Tak seperti biasanya Anan seperti itu. Nessa coba
meneleponnya. Tapi berkali-kali tak diangkat. Malah terkadang dimatikan. Ia pun
mengirim pesan, tapi tak kunjung di respon. Nessa kesal. Tak seperti biasanya
dia seperti itu terhadap Nessa, sesibuk apapun Anan, ia masih bisa mengatur
waktu untuk sekedar memberi kabar ke Nessa. Memang kemarin Anan pernah bilang
bahwa dia sedang ikut pelatihan. Tapi ini sudah terlalu lama. Tiba-tiba sms Ana
masuk.
“lagi apa sayang?”
Nessa yang sudah lama kesal itu
meluapkan amarahnya ke Anan.
“Masih ingat juga buat menghubungi
aku, aku kira kamu sudah lupa, bisa ya kamu kayak gini, kemana aja hah?! Aku
udah telepon tapi tak pernah di angkat. Aku capek. Siapa yang tahan kalo enggak
dikasih kabar kayak gini?” Suara Nessa bergetar. Dia tak pernah semarah ini
dengan Anan.
“Aku sibuk, kamu tahu kan? Udah lah
tak usah diperpanjang lagi. Aku bosan dengar kamu marah-marah, sudah ya nanti
saja sms lagi”.
Nessa sangat marah dengan perkataan
Anan tadi. Ia menagis. 1 bulan terakhir ini, setelah Anan menjalani kuliahnya.
Masalah-masalah kecil mulai muncul. Dari komunikasi yang tidak terjalin lancar.
Hingga intensitas bertemu yang semakin sedikit. Jarak yang memisahkan Anan dan
Nessa membuatnya sulit untuk menyelesaikan masalah sesepele apapun. Nessa
menginginkan diskusi dan pembahasan yang terperinci. Hingga semuanya selesai
pada sebuah kesimpulan yang membuatnya merasa baik. Namun Anan malas membahas
masalah-masalah itu. Ia cenderung membuang muka dan membiarkan waktu yang
menyelesaikann masalah-masalah itu. Ia terlalu lelah dengan tugas-tugasnya dan
tidak punya waktu untuk meladeni Nessa. Lama-kelamaan, Anan menganggap Nessa
seperti anak kecil yang yang rewel menuntut penjelasan untuk setiap masalah
yang mereka hadapi. Sementara Nessa melihat Anan seperti tidak perduli dengan
hubungan mereka sendiri.
Hingga akhirnya Nessa memilih untuk
mengikuti saja cara Anan dan tidak lagi sering membahas masalah yang terjadi
diantara mereka. Namun, ternyata itu bukanlah pilihan yang tepat karena masalah
yang ada tidak lantas menghilang, tetapi tetap disana, menjadi bara api dalam
sekam. Yang diam-diam membakar habis hubungan mereka dan siap kapan pun
berkobar saat ada cukup angin yang menghembusnya. Nessa merasa hubungan dengan
Anan seperti sebuah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
***
Anan duduk dikursiperpustakaan.
Menatap layar laptopnya. Ia sedang mengedit proposalnya. Teh panas di meja Anan
mulai dingin. Ia baru meminumnya sedikit. Pikirannya menerawang tentang keadaan
Nessa disana. Perempuan itu nampak begitu marah karena ia tak memberinya kabar.
sejak awal, Anan tau pilihan menjalani hubungan dengan Nessa akan menjadi
pilihan yang sangat berat. Hubungan jarak jauh adalah pilihan satu-satunya yang
mereka ambil, yang belakangan ini menjadi alasan masalah kecil yang timbul
diantara mereka. Ia merasa bahwa ia terlalu jahat dengan Nessa. Maka ia memilih
untuk menjauh dari pilihan itu. Karena ia juga sekarang sedang menjalani
hubungan dengan wanita lain, dikota yang sama. Anan belum mau terbuka dengan
Nessa. Ia tahu bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkannya.
Anan mengirim pesan kepada Nessa
setelah mereka bertengkar lagi tadi.
“Aku minta maaf ya, kalo kamu udah
tak kuat lagi mending jangan diteruskan. Dari pertama kita bertengkar, aku
sudah merasa bersalah. Kalo memang kita dipersatukan. Waktu itu pasti ada.
Mungkin harus sabar menanti__”. Anan menarik napas panjang dan memikirkan kata
yang pas dia ucapkan lagi agar Nessa tidak sedih membacanya.
“tapi jangan sedih ya, aku tak mau
kamu menangis”.
Nessa tidak menjawab. Ia mencoba
untuk menguasai dirinya. Tapi lagi-lagi ia menangis. Terkadang tak ada pilihan
lain untuk menghindari dari rindu yang menyakitkan selain menjauh dan perlahan
melupakan.
“Untuk apa mengekang sesuatu jika
sesuatu itu ingin bebas, coba saja untuk melupakannya. Pepatah pernah
mengatakan, berhentilah membuang cinta dan sayangmu kepada orang yang salah.
Mulailah saja untuk membuka lembar baru”. Ungkap Reva sembari mengunyah roti
Backry.
Nessa memaksa Reva untuk
menemuinya. Ia butuh Reva untuk menceritakan semua yang sedang ia alami. “sulit
Va, aku masih benr-benar mencintainya”, ia berbaring memeluk guling, wajahnya
menekuk.”Aku cuma tak tahan tak berkomunikasi dengan dia, tapi kenyataanya dia
tak mengerti aku”.
“Nah!” Reva berseru. Pipinya
menggembung menampung kunyahan roti yang ia makan. “Bukan kah itu sudah cukup?
Berati jelaskan, dia yang sebenarnya ingin meninggalkanmu, belajarlah dari
pengalaman Nes, mungkin dia telah menjadi milik orang lain disana, forget him”.
2 bulan kemudian, masih pada posisi
yang sama, masih dengan perasaan yang sama. Nessa masih belum bisa melupakan
Anan. Ia menangis setiap hari. Sampai ia jatuh sakit. Rindu ini menyakitkan.
Kadang dia datang disaat yang tidak tepat. Nessa mengambil ponsel disamping
bantalnya. Ia merasa kangen dengan Anan. Ia mencoba untuk menelepon Anan. Tapi
tak diangkat-angkat. Baru lah untuk kesekian kalinya Anan mengangkat
teleponnya.
“Kenapa kamu tidak mengangkat
teleponku?” tanya Nessa.
“Aku angkat”.
“Tapi setelah berkali-kali aku
meneleponmu”
“Yang penting aku angkat kan?!”
Nessa menarik napas.
“Ada apa? Aku lagi dikampus
sekarang. Bentar lagi dosenku masuk. Sudah ya”. Klik
Nessa sangat kaget dengan sikap
Anan. Ia berharap sekali Anan mengerti, tapi rasanya tidak. Berbeda dengan
Anan, dia berbohong kepada Nessa. Sebenarnya ia sedang duduk bersama
dengan seorang perempuan. Perempuan yang sekarang menjadi pengganti Nessa.
Namanya Tika. Perempuan itu menoleh Anan, memberi isyarat dengan menaikkan
alisnya seolah-olah bertanya siapa. Anan menjawab dengan gelengan kepala dan
tersenyum. Perempuan itu mencoba bertanya, tapi Anan berusaha mengalihka
pembicaraan. Tika tidak tau apa yang sebenarnya Anan sembunyikan. Tapi ia ingin
mencari tau, karena ia tahu Anan menyembunyikan sesuatu darinya.
***
Pagi-pagi tak biasanya I-phone
Nessa berdering. Dari nomor yang tidak ia kenal.
“Hallo, maaf ini siapa?” Tanya
Nessa penasaran.
“Ini Nessa ya? Anak SMA itu kan,
mantannya Anan”
Mantan? Apa yang... apa yang sedang
terjadi? Aku tak mengerti.
“Maaf ini dengan siapa ya?”
“Aku kekasih Anan, kamu kan yang
kemarin telepon-telepon dia? Dengar ya. Aku tak suka__” klik
Belum habis lagi wanita itu
berbicara. Nessa langsung mematikan teleponnya. Nessa shock dan tak habis
pikir. Pagi minggunya dirusak oleh seseorang yang mengaku kekasih Anan.
Anan tak pernah bilang tentang ini. Padahal status mereka masih belum putus.
Berbagai pertanyaan muncul dari benak Nessa. Nessa pun menelepon Anan dan ingin
meminta penjelasan.
“Hallo, iya Nes ada apa?”
Dengan nada setengah menangis Nessa
bertanya.”Siapa dia? Kenapa kamu tak pernah cerita hah? Kenapa kamu bohong”.
Sepertinya Nessa sudah mengetahui
nya. Tapi dari mana? Batin Anan bertanya.”Maafkan aku Nes udah bohong. Aku
memang dengan dia. Tapi aku tak bisa kayaknya. Aku janji akan menyelesaikan
semuanya”.
“Kau mempermainkan aku Nan, kau
jahat”.
“Ia, Aku memang jahat, aku memang
bodoh. Tapi dari kebodohan itu, aku bisa tau mana yang terbaik buat aku.
Mungkin aku cuma bisa nyaman sama kamu aja Sa. Biarkan lah aku tebus semua
semua kesalahan aku ini. Aku akan selesaikan semuanya”.
“ Itu terserah kamu dan resiko
kamu. Aku tak mau peduli dan mau tau lagi. Aku benar-benar kecewa sama kamu
Nan. Aku ingin berhenti dari semua ini”.
Anan tersenyum. “Tentu kita akan
berhenti seperti ini, kita tak tidak akan seperti ini lagi. Aku sudah bilang
aku akan membereskan ini semua kan? Dan kita akan bahagia”.
“Kamu tidak mengerti. Aku ingin
putus”.
“Coba jelaskan kepadaku apa yang
terjadi”.
“Maaf, aku tak bisa seperti ini”,
Nessa berusaha keras menahan air matanya tidak keluar. “Kamu tidak perlu
menyelesaikannya, karena saat ini semua sudah selesai”.
Anan menarik napas, berusaha
menimbang-nimbang kalimat yang hendak ia ucapkan. “Aku pikir kita akan
sama-sama berjuang Sa”.
“Maaf sudah terlambat”.
Kau tau perasaan itu, saat semua
yang telah kau perjuangkan jadi terasa sia-sia saja? Dua bulan adalah waktu
yang lebih dari cukup bagi Nessa untuk bertahan dengan luka. Mungkin salah satu
hal yang membuat Nessa bertahan hingga sejauh ini adalah perasaan yang
diutamakan.
Nessa tak habis pikir dengan sikap
Anan. Tak pernah konsisten dengan apa yang ia miliki. Ia mungkin menganggap ini
masalah sepele. Tapi kenyataannya ini masalah besar. Ini menyangkut 3 hati. 3
perasaan. Ia tak pernah berharap ada orang ketiga yang akan mengganggu hubungan
mereka. Ia tak tau harus mengungkapkan apa. Ia bingung. Terkadang saat
seseorang terlalu larut dalam kesedihan. Ia sampai tak tau harus menangis atau
tertawa.
Mencintai seseorang itu tak salah
kok. Cuma kalau cara kamu salah bakal membuat pihak lain merasa
tersakiti. Sebaiknya kamu selesaikan masalah kamu dengan pasanganmu. Baru kamu
pacaran dengan wanita lain.
I-phone Nessa berbunyi. Telepon
dari Anan. Ia membiarkan nada deringnya berbunyi cukup lama sebelum akhirnya ia
memutuskan untuk mengangkatnya.
“Aku sudah putus dengan dia”.
Nessa terhenyak. “Apa?”
“kamu mendengarku Sa?” Anan
mengulangi perkataannya. “Aku tak bersama dia lagi sekarang”.
“Bagaimana mungkin?”
“Kamu mau denganku kan Sa? Kita
mulai semua dari awal.
“Tapi aku__” Nessa menarik napas
dalam “__maaf Anan aku tidak bisa”. Sebelum sempat Anan bicara lagi, Nessa
memutuskan telepon.
Nessa merasa dadanya sesak. Untuk
kesekian kalinya. Bola matanya kembali basah. Ia sudah memutuskan untuk tidak
lagi memupuk harapannya kepada Anan. Ia tidak lagi berharap bahwa ia akan
memiliki akhir yang indah dengan lelaki itu yang sekaligus menghancurkannya.
Dan pada saat ia sudah tersadar dari mimpi-mimpinya dan kembali kekenyataan.
Lelaki itu kembali menghubunginya kembali. Berkata bahwa ia sudah mengakhiri
hubungannya dengan wanita pengacau itu.
“Entah mengapa, aku tidak begitu
senang mendengar kabar ini Nes”. Suara Reva terdengar cemas di ujung telepon.
“Aku tidak tahu harus bagaimana”.
Kata Nessa dengan suara datar.
“Jangan biarkan ia mempermainkanmu
Nes”.
“Dia sepertinya tidak
mempermainkanku Va”.
“Kamu pasti tidak lupa kan Nes,
dulu Anan juga pernah melakukan kesalahan itu. Dan sekarang ia melakukannya
lagi. Apa yang membuatmu berpikir dia tidak akan melakukan hal yang serupa
kepadamu kemudian hari”. Reva menekan suaranya. “Aku tau kamu perempuan yang
cerdas. Tapi kamu tampak bodoh saat bersama laki-laki. Cinta membuatmu menjadi
orang yang bodoh”.
Nessa tidak menyanggah perkataan
Reva. Mencintai Anan mendadak membuat ia menjadi orang yang paling bodoh
didunia. Apa artinya mencintai orang lain yang katanya mencintaimu, tetapi juga
mencintai orang yang lain lagi.
“Lalu, kamu akan menerimanya?”
Tanya Reva.
“Tidak”.
“Tapi kamu masih memikirkannya?
Kamu masih mempertimbangkannya?
“Aku tak tau Va”.
“C’mon. Kau pantas mendapatkan
laki-laki single, tampan, cerdas, baik, tidak mempermainkanmu dan setia”
“Iya Va, aku akan
menyelesaikannya”.
***
“Apa yang ingin kamu katakan?”
Lelaki itu tidak berhenti
menghubunginya dan terus menghubunginya. Sudah satu minggu Anan terus-terusan
“mengejarnya” dan selama satu minggu itu pula Nessa berusaha mengelak. Hingga
pada akhirnya Nessa memutuskan untuk mengangkat telepon Anan dan membicarakan
masalah yang terjadi diantara mereka.
“Aku ingin kita memulai lagi
semuanya dari awal”.
“Diantara kita sudah tidak ada
apa-apa lagi. Tidak ada yang perlu dimulai, semuanya sudah berakhir kan?” Nessa
berusaha keras mengendalikan debar didadanya. “Kamu seharusnya tetap bersama
Tika, bukan denganku”.
“Tapi aku baru sadar Sa, tolong”
“Kita__” Nessa menahan sesak di
dadanya yang tiba-tiba mengacaukan suaranya. “Aku dan kamu tidak bisa lagi
memulainya seperti ini”.
“Lalu bagaimana kita harus
memulainya lagi? Katakan? Dan akan kulakukan”.
Nessa menghela napas panjang. Ia
berpikir, ia tidak bisa memulainya dengan cara seperti ini. Terlalu berat
baginya untuk menjalin hubungan kembali dengan keadaan seperti ini. Ia
berpikir, mungkin apa yang Anan rasakan selama ini hanyalah sebuah rasa yang
tiba-tiba dan sementara saja. Anan tidak bisa menemukan apa yang ia inginkan
dari Nessa makanya ia berpaling dengan Tika. Dan ternyata ia tidak merasa
nyaman dengan Tika dan ingin kembali ke sisi Nessa lagi. Nessa menduga apa yang
Anan rasakan hanyalah sementara.
“Tinggalkan aku”.
“Hah?”
“Tinggalkan aku, pergi sejauh
mungkin dariku”.
“Apa maksudmu Sa? Aku tak bisa
meninggalkanmu. Aku tak mau”.
“Jika jarak dan waktu sudah
memisahkan kita begitu jauh, tapi perasaanmu masih ada dan masih sama untukku,
kamu boleh kembali dan kita akan bicara lagi tentang semua ini”.
Anan tampak berpikir, berat baginya
untuk memenuhi permintaan Nessa. Namun ini semua demi memperjuangkan apa yang
telah ia yakini. Ia cukup menyesal dan menyadari bahwa apa yang ia lakukan dulu
sangat salah. Tapi sekarang ia ingin menunjukkan bahwa hanyalah Nessa yang
sekarang dihatinya. Bukan yang lain. Ia tak mau kehilangan kebahagiaannya lagi.
“Baiklah kalau itu maumu. Aku akan
pergi sejauh yang aku bisa”.
Nessa hanya diam beberapa saat, dan
kemudian mematikan teleponnya.
Anan menunduk. Ia merasa sangat
lemah. Mungkin segala yang berakhir tidak harus selalu diikuti oleh sebuah awal
yang baru. Mungkin kesempatan itu memang tidak akan pernah datang untuk kedua
kalinya.
Betapapun Nessa menyadari bahwa ia
masih memiliki rasa yang sangat besar kepada Anan. Ia tidak bisa memulainya
lagi begitu saja. Ia juga tidak tahu apa yang ia butuhkan untuk mengembalikan
kepercayaannya akan seseorang yang sanggup menjaga hati dan harapannya. Nessa
sedang mencoba memahami 1 hal yang hingga saat ini masih sulit ia mengerti.
Bahwa dalam setiap pertemuan. Selalu ada perpisahan yang tidak bisa ia hindari.
_Tamat
Komentar
Posting Komentar