06 || 01 September 2021
Aku nggak tidur. Aku nggak bisa tidur. Sampai pagi mataku tetap perih. Tenggorokanku juga perih. Mulutku terasa asam. Sebanyak apapun kuguyur kepalaku dengan air. Rasanya tetap sama. Mungkin aku perlu pergi ke kolam renang yang airnya lebih banyak. Mungkin aku perlu menyelam dan tidak perlu muncul lagi.
Malam itu aku ingin menangis yang keras sekali. Aku ingin menjerit. Aku ingin membanting semua barang yang aku lihat. Semua keinginan itu membuat dadaku sesak namun aku tidak melakukan apapun. Perutku juga terasa diaduk-aduk.
Dia mengatakan ingin putus. Padahal waktu itu aku sedang semangat belajar buat kue cake untuk merayakannya, aku ingin memberikan sesuatu yang aku buat dari tanganku sendiri. Padahal sebentar lagi dia ulang tahun. Padahal aku sudah membuat kado spesial untuk merayakannya. Diam diam sudah aku pesan photobook agar foto foto kita selama setahun bisa kita kenang.
Ada kalimat dari sebuah film, "tidak ada laki-laki yang ingin sebatas teman dengan wanita yang mempesona. Ada cara sederhana supaya teman bisa menjadi kekasih, salah satu dari mereka harus maju satu langkah. Satu langkah ini akan mengubah hubungan mereka". Kadang aku pikir kita bisa saja berteman tanpa melibatkan perasaan. Aku pikir begitu supaya aku tidak kehilangan teman. lalu kemudian sore itu, kamu maju satu langkah untuk lebih dekat denganku. Ditemani sunset yang indah sekali, ditepi pantai. Setumu.
Kamu janji nggak akan pernah memutuskan hubungan ini, namun nyatanya janji itu tidak ditepati. Kita mulai hubungan ini dengan aku menangis, dan kamu akhiri hubungan ini dengan aku dan kamu juga menangis. Aku melihat air mata itu juga jatuh dari matamu. Di teras rumahku.
Aku berdiri dan muntah di selokan terdekat. Muntahanku terasa lebih pahit dan asam dari mulutku sendiri. Aku merasa lemas.
Dulu aku pernah begini. Dulu sekali. Kapan ya itu?
Ah, iya. Waktu aku tau ternyata hubunganmu dengan dia belum sepenuhnya selesai. Setiap aku menangis hebat, aku pasti muntah dan menggigil. Saat aku muntah di wc, dia memelukku dari belakang, dia menggendongku dan membawaku ke ruang tamu. Saat itu aku merasa buruk sekali saat menangis. Dia mencium hidungku yang basah. Dia menggesekkan hidungku ke hidungnya. Dia berusaha memahami tiap sesak yang aku rasakan. Dia sangat lembut sekali kepadaku. Dia siapa? Kenapa dadaku terasa sesak setiap mengingatnya.
Sekarang, dia masih menungguku selesai sambil berdiri. Dia mengucapkan sesuatu, tapi aku nggak bisa dengar dengan jelas. Kepalaku berdengung. Apa yang aku tunggu? Dia tidak akan menggendongku lagi kan? Dia tidak akan menenangkanku lagi kan? Dia sudah bukan orang yang sama lagi.
Komentar
Posting Komentar