09 || Winter Bear✨


Aku menulis ini sambil mendengarkan lagu ini. Mari dengarkan. Enjoy and Happy Reading!

Sudah setahun saja ya berlalu. Ah tidak. Ada yang bilang, "coba diganti saja jadi setahun 2 hari atau setahun 5 hari. Jangan di genapin setahun, nanti jadi susah lupanya". 

Anyway, Time goes flies ya git. Semoga kamu baik baik saja, semakin bahagia, semakin cantik dan ceria. Aamiin.

Aku senang ada yang menunggu tulisanku. Aku senang ada yang suka dengan tulisan tulisan yang sebenarnya cuma bacotan biasa seorang anak perempuan bernama gitaa. Ngga ada yang menarik. Aku pikir tidak ada yang tertarik. Tapi aku memang suka menulis. Dan aku suka ada yang tertarik.

Aku juga punya kegiatan lain selain menulis dan membaca, yap mewarnai buku gambar. Aku membeli banyak buku mewarnai untuk anak anak sampai dewasa. Aku senang mewarnai. Aku mewarnai semuanya dengan teliti. Lumayan juga, aku jadi kehilangan selera untuk memikirkan orang jahat itu.

Aku juga sudah bisa menonton film dan drakor a.k.a drama korea, aku juga sudah bisa mendengarkan dan menikmati musik bahkan sampai musik sedih sekalipun, aku bahkan sudah bisa tertawa lepas tanpa beban, bahkan kata temanku aku sudah pintar bercanda. Aku mulai menikmati kegiatan dan kesibukan aku bekerja dan mengajar. Saat ini rutinitasku hanya seperti itu dan aku masih ingin tetap begitu saja.

Beberapa waktu yang lalu aku me-Retweet tulisan Fiersa Besari. Katanya. “Ucapan sederhana bisa sangat bermakna. Semangat ya, janji bahwa besok kamu harus masih ada”. Apa kamu juga bisa berjanji bahwa esok kamu masih ada? Apakah janji dari seorang anak laki laki itu bisa dipercaya? I wondered.

 Seandainya saja kita dulu bertemu, aku ingin sekali mengatakan “orang yang tertangkap camera pada foto lama dibuketku itu, kini berada di depan mataku”. Kalau saja aku mampu, sudah kukejar langkahnya agar kita bisa berjalan berdampingan, tapi tidak pernah aku lakukan. Aku bahkan yang ingin dia kejar, aku ingin dia rindukan. Aku ingin dia buatkan ku puisi. Aku ingin dia berikan aku bunga lagi. Aku ingin dia berikan cincin. Aku ingin dia lamar. Lalu aku bertingkah tidak peduli, karena aku sudah punya yang lain. Agar dia tau rasanya jadi aku!

Seharusnya, waktu ia mengatakan ia baik-baik saja. Seharusnya aku menganggapnya begitu. Waktu ia katakan tidak ada masalah, aku harus menduga itu hanya perasaan dan kecemasanku saja. Perasaan perasaan itu terasa seperti orang bodoh yang melihatnya terasa asing dan menjauh selangkah demi selangkah. Satu orang akan terus memaklumi dan merasa kecewa, dan yang satunya akan terus merasa bersalah.

Tentang orang yang terus memaklumi yang ditengah berisiknya hujan, ia berharap tidak ada satupun manusia yang mendengarkannya terisak. Berusaha menutupinya dengan suara suara bahagia seolah tidak pernah terjadi apa apa, seolah tidak peka dan tidak mau tau dengan apapun. Orang itu terbentuk dan dibentuk dari luka tersembunyi yang tidak memiliki tempat berbagi.

Orang yang kecewa itu berusaha keras dan berapi api untuk bisa melupakannya di jalan jalan yang sering mereka lewati berdua. Motor yang hampir jatuh dipersimpangan jalan Pamedan, makan dipinggir jalan, nasi padang, pecel lele dan bandrek yang tak pernah lagi mau orang itu datangi tempatnya sampai sekarang. Tertawa tidak jelas cuma karena hal konyol atau karena mereka tiba tiba mendengar musik in somewhere. Tapi itu dulu.

Saat ini, aku cuma sedang menikmati waktu, karena jam tidak akan berputar ke kiri. Jam tidak akan menarik diri kebelakang untuk membawa cerita lama kembali. Perlahan, aku juga mulai mempercayai pilihan dia. Ntah ia sedang bahagia atau sedang melewati hari-hari buruk, ia pasti punya alasan yang baik untuk egois, agar ia tidak terus terluka ataupun melukai orang lain. Sekarang, aku yang harus mendukung pilihan dia.

Aku harap kamu tidak sengsara sepertiku. Banyak banyak doa baik yang ku semogakan untukmu. Semoga kamu baik baik saja. Semoga kamu bisa melanjutkan perjalananmu. Karena akupun harus begitu. Selamat tinggal. Tak akan lagi aku mencari dirimu dalam mimpi-mimpi panjangku. Takkan lagi aku bertanya tanya seperti apa kabarmu. Semoga tak akan lagi aku menemukanmu. Selamat tinggal!

_

Komentar

  1. Aaaaaa so sweet 😘😘😘 sukak baca tulisan gita

    BalasHapus
  2. Apa aku terlalu salah untuk bertahan dalam rasa yang mati untukmu?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer