01

"Aku selalu memeluk luka dalam tawa, menyimpan duka dalam suka, menyimpan tangis dalam senyum. Hebat bukan? Kau pun sampai tak sadar. Tetapi apakah memang kau tak sadar atau memang tak perduli?"

Kau tau luka? Luka yang tak bisa diobati dengan cara apapun. Walaupun kau sudah mengalihkan perhatian untuk melupakannya tetapi tetap saja tidak bisa. Rasa luka itu seperti daging yang tersayat terus menerus tanpa henti. Menggerogoti luka dengan lebih dalam. Berkoloni dan beranak pinak disana. Setiap bangun tidur. saat kesadaran baru ku dapatkan. Sekelebat luka-luka itu muncul. Mengingatkan suatu kejadian yang membuat hati ingin menjerit. Luka itu semakin menganga lebar karena tidak pernah diobati lagi.

***

Aku insomnia semalaman. Merindu di tengah malam dalam diam dan sepi. aku belum pernah insomnia sebelum dekat denganmu. aku selalu tidur dibawah jam 12 malam. Tapi setelah dekat denganmu yang ku tau kau itu insomnia berat, aku jadi ikut-ikutan. Oh ya sepertinya aku pernah sekali insomnia waktu ada seorang pria yang mengatakan perasaannya padaku. Sampai pagi aku tidak bisa tidur. itu cerita imsomnia lama sebelum akhirnya aku bisa insomnia juga karenamu. Rindu itu melelahkan. Kalau rindu itu digaji, pasti sekarang aku sudah jadi jutawan kan? Tapi ya begitulah. Kalau aku rindu aku cuma bisa pasang wallpaper pap kamu di handphone. Ahh itu bukannya membuat aku bertambah rindu ya. Hidungmu yang mancung baru ku perhatikan. kau malah bilang "cie". Aku masih ingat. Maaf ya. Aku sangat jarang memperhatikan seorang pria.

Kamu bilang, jujur dengan keadaan tidak apa-apa asal jangan jujur dengan perasaan. Tapi kalau keadaan yang membuat ku merindumu bagaimana? Kalau aku katakan rindu, kau akan jawab apa. Itu pertanyaan ku hari ini. kau tau sebelumnya aku suka tidur. Kehidupanku memiliki kecenderungan untuk jatuh ketika aku sadar. Dan aku tidak tahan rindu. Rasa sakit itu terasa seperti dèjá vu bagiku.

Aku masih ingat. "Malam ini sepertinya tidak bisa, maaf ya". Deg. Jantungku rasanya mendadak berhenti. Sebisa mungkin aku mengatakan aku tidak apa-apa setelah membaca chat yang diluar dugaan ini. hatiku masih kuat kok. seperti buku yang jatuh dari raknya ke dasar lantai. terdengar suara "buukk". Itu tidak apa-apa. Aku masih bisa tersenyum. Tapi, lama-lama aku sadar, apa yang kita inginkan terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. "Sekitar ba'da isya setengah delapan". Rasanya sesak dada ini. Tidakk, ini bukan buku lagi. Ini sudah berubah menjadi pecahan kaca yang berserakan di dasar lantai, menimbulkan luka yang lebih dalam lagi ketika di pijak. Kau tak mengatakan apapun kepadaku. Mungkin caramu berpikir seperti itu. tak mengatakan apa-apa memang tak akan menyelesaikan masalah, tapi jauh menenangkan batin ketimbang berdusta. Aku tau ini kecewa.

No apologies, he'll never see you cry. Pretend he does'nt know. That he's the reason why.
Cause I know you were trouble when you walked in. So shame on me now. Flew me to places I've never been. Til you put me down. Now I'm lying on the cold hard ground. Oh trouble.

Kata orang, semakin kau merasakan sakit hati, maka semakin indah kata-kata yang tercipta. Mungkin begitulah cara Tuhan mengajarkan manusia agar berkali-kali jangan jatuh lagi. Aku rasa aku sudah kuat. kuat melepaskanmu pastinya.

See ya yang berangkat hari ini. Tanggal 22. Untuk kamu aku gak tau kapan kita akan ketemu lagi. Aku cuma bisa pasrah sama jalan yang diberikan Tuhan. Mungkin Tuhan belum rencain kita buat ketemu. Ntah itu karna aku dan kamu punya urusan yang gak bisa di tinggal dan hal urgent lainnya. Kalo kita jodoh buat ketemu lagi, Tuhan pasti bakal ngabulin kok dengan rencana-Nya sendiri disana. Setidaknya terimakasih ya sudah jadi teman ku selama di sini. Aku pasti sangat merindu mu meski ku tau kau tak kan tau.

                   Tanjungbatu, 22 Agustus 2017

Komentar

Postingan Populer