02 || Puisi untuknya
Aku akan menceritakan kerinduanku.
Dengan kata-kata biasa, dan kau cukup tersenyum
memahami deritaku.
Ini mungkin adalah tulisan penuh kepura-puraan.
Tentang perasaan yang berpura baik-baik saja.
Tentang seseorang yang berpura-pura kuat melewati
segalanya.
Padahal sebenarnya setiap kata adalah luka. Terlalu
sulit melupakanmu, seseorang yang membuat luka dan rindu menjadi satu.
Untaian kata pamitmu menyusun bait-bait luka tak
berjeda, membentuk puisi dengan sentuhan rima penuh luka.
Akulah si pembaca yang mencoba tegar tak terjadi
apa-apa, meski isak kian sesak menggumpal di dada.
Jika ada yang sedang mencoba untuk terlihat biasa
saja walaupun ia sedang menahan sakit yang luar biasa, itu aku.
hingga berlarut-larut diamku tak menjadikan semua kembali sama.
apakah kita hanyalah sebuah janji yang ditakdirkan untuk diingkari?
hingga berlarut-larut diamku tak menjadikan semua kembali sama.
apakah kita hanyalah sebuah janji yang ditakdirkan untuk diingkari?
Selepas pergimu ada hal-hal yang tak bisa begitu
saja kuhilangkan.
Beberapa diantaranya bahkan masih saja melekat dalam
ingatan.
Bohong jika aku katakan aku bisa melupakan semua
kejadian yang pernah kita lewati bersama.
Tentang beberapa percakapan kita dimalam itu, kau
ingat?
Tentang lelucon yang kau buat tentang pagar ibu kos yang
membuat ku tertawa di tengah malam buta.
Kata orang jatuh cinta itu sederhana, sesederhana
saat kau tidak bisa menahan senyum saat melihat wajahnya. Dan iya aku dulu
merasakannya.
Di jembatan yang telah dilupakan oleh ingatan, aku
mencoba mengingat jalan-jalan yang pernah kita lalui.
Jika kamu berniat hanya singgah, hanya untuk
menenangkan hatimu yang sedang patah, kamu harus memikirkan kembali.
Hidupku sedang baik-baik saja.
Jika kamu hanya ingin menetap sementara, jauh
sebelum ada kamu, aku adalah orang yang bahagia.
Harus aku akui.
Aku menangis, kadang-kadang.
Aku bernyanyi sekeras yang kubisa di kamar untuk
bisa membuang ingatan itu.
Untung saja ibu kos tidak naik ke atas untuk
menanyakan apa aku baik-baik saja.
Hari ini aku membuka jendela kamarku.
Berharap angin bisa menampar pipiku dan mengeringkan
air mataku.
Aku tahu semuanya tidak akan baik-baik saja.
Tapi terimakasih telah menghiburku.
Terimakasih telah menjadi seseorang yang berarti di
10 hariku.
Terimakasih :)
Taman Laman Boenda, Tanjungpinang.
Komentar
Posting Komentar