03 || Duapuluh September
11:08. Benar ini waktunya. Saya tidak terlambat. Benar ini tempatnya. Benar ini bus biru nomor dua belas. Baiklah saya akan menunggu lagi seperempat jam. Duapuluh september. Disini. Ditempat ini. Dikursi ini.
Alunan musik payung teduh-akad saya dengar lamat-lamat. Saya berharap kamu bisa menyanyikan lagu itu untuk saya lagi. Saya sebegitu tidak adanya kegiatan sampai-sampai memperhatikan pemilik kedai itu, ia menurunkan mangkok. Menyusun dan memindahkan pada seharusnya mereka bertempat.
Saya gusar melihat ceker ayam di dalam dandang tersebut. Kamu tidak suka ceker kan? Saya ingat, selalu ingat. Kamu juga tidak suka jengkol bukan? Pemilik kedai keluar.
Sebulan yang lalu saya lima belas menit berada disini. Memastikan handphone dipegang dengan baik. Karena ada pesan yang harus dibaca. Kemudian...
Dia sudah datang ke bus.
"gitaa"
Saya menoleh kebelakang, "Oh jadi ini ya?" Senyum nya sumringan.
Saya lalu terdiam beberapa detik memperhatikan dia. Lalu teguran itu membuat saya kembali bernapas dengan baik. Dia memberikan saya sebuah teh botol "fruit tea" dilengkap dengan sedotan.
Alunan musik payung teduh-akad saya dengar lamat-lamat. Saya berharap kamu bisa menyanyikan lagu itu untuk saya lagi. Saya sebegitu tidak adanya kegiatan sampai-sampai memperhatikan pemilik kedai itu, ia menurunkan mangkok. Menyusun dan memindahkan pada seharusnya mereka bertempat.
Saya gusar melihat ceker ayam di dalam dandang tersebut. Kamu tidak suka ceker kan? Saya ingat, selalu ingat. Kamu juga tidak suka jengkol bukan? Pemilik kedai keluar.
Sebulan yang lalu saya lima belas menit berada disini. Memastikan handphone dipegang dengan baik. Karena ada pesan yang harus dibaca. Kemudian...
Dia sudah datang ke bus.
"gitaa"
Saya menoleh kebelakang, "Oh jadi ini ya?" Senyum nya sumringan.
Saya lalu terdiam beberapa detik memperhatikan dia. Lalu teguran itu membuat saya kembali bernapas dengan baik. Dia memberikan saya sebuah teh botol "fruit tea" dilengkap dengan sedotan.
Jam setengah 8. Malam masih panjang. Dan kami memutuskan untuk menyeberang ke sebuah cafe. Dia memesan dua gelas Milo hangat. Satu untuk saya dan sisanya untuk dirinya. Suasana cafe sangat menyenangkan. Banyak yang duduk bersama teman, banyak pula yang duduk berpasang-pasangan. Tak perduli tatapan orang. Kami berbicara tentang apa saja. Bak seperti sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Dia mengatakan bahwa dia nyaman bersama saya.
Kami berjalan kaki di taman kota Laman Boenda. Sambil bergandengan tangan mengusir dingin nya malam. Pada tepian jalan, dibawah lampu taman yang redup temaram. Kami berciuman. Lalu saling mengikat janji kelingking. Berjanji bahwa apapun yang akan terjadi dikemudian hari nanti, kita akan melewati nya bersama-sama.
Jumat itu, dia menggenggam tanganku sekali lagi. Dan kami berpisah.
---
Enampuluh menit ditambah seperempat.
Tidak, dia tidak mungkin pergi. Aku sangat mempercayai nya. Tidak dia tidak akan membuatku sakit. Tidak. Jangan pergi, aku rindu.
Kencan usai, pada waktu singkat. Dan meninggalkan luka.
Senggarang, 20 Oktober 2017
Kami berjalan kaki di taman kota Laman Boenda. Sambil bergandengan tangan mengusir dingin nya malam. Pada tepian jalan, dibawah lampu taman yang redup temaram. Kami berciuman. Lalu saling mengikat janji kelingking. Berjanji bahwa apapun yang akan terjadi dikemudian hari nanti, kita akan melewati nya bersama-sama.
Jumat itu, dia menggenggam tanganku sekali lagi. Dan kami berpisah.
---
Enampuluh menit ditambah seperempat.
Tidak, dia tidak mungkin pergi. Aku sangat mempercayai nya. Tidak dia tidak akan membuatku sakit. Tidak. Jangan pergi, aku rindu.
Kencan usai, pada waktu singkat. Dan meninggalkan luka.
Senggarang, 20 Oktober 2017

Komentar
Posting Komentar